![]() |
| Dua Orang Mimpi Yang Sama |
Umumnya kita memimpikan seseorang apabila sedia ikatan sentimental ataupun ikatan batin, baik berdasarkan kekeluargaan maupun adanya ikatan cinta. Tak jarang kita merasa heran, kenapa bisa memimpikan orang yang tidak begitu sedia ikatan emosional. Kenapa orang tersebut bisa hadir di mimpi kita?
Secara sederhana, orang yang hadir di bunga tidur dibagi menjadi dua golongan; orang tak dikenal dan orang yang dikenal. Orang tak dikenal simbol mahkluk gaib, seperti pisaca-pisaci, sang wengi (jero gede, jero sedahan, jin), Dewa Hyang (leluhur), bahkan Sesuunan (dewata). Apabila yang hadir di bunga tidur orang yang sama banget tak dikenal dan tidak merasa kerabat, biasanya simbol sang Wengi. Kadang kita ditolong, diberikan sesuatu. Tak jarang kembali diajak bertarung mati-matian. Mahkluk abnormal jenis ini setara kedudukannya dengan manusia; sedia yang baik suka menolong manusia, berlimpah kembali yang jahat.
Rumahnya di tempat-tempat kudus seperti batu, jurang, pohon. Oleh sebab itu di Bali berlimpah kita temukan Tugu ataupun Palinggih di tempat-tempat kudus dan diberikan sesajen, tujuannya buat nyomia (mengubah energi minus menjadi energi positif, kekuatan jahat menjadi kekuatan baik), bukan buat menyembah. Itu sebabnya bila mempersembahkan banten (upakara, sesajen) di ruang kudus bukan 'nyumbah' tapi 'ngayabang'. Dengan cara itu, kita tidak diganggunya. Kita memperlakukan mengatur dengan konsep persaudaraan, bukan dengan permusuhan.
Bila bibit buwit hadir ke di mimpi, biasanya ia asal sebagai kerabat tetapi tidak kita ketahui namanya, ini jua pelebaya yang hadir ke di bunga tidur adalah bibit buwit yang telah agung kedudukannya ataupun bibit buwit yang telah jauh. Namun apabila bibit buwit yang lagi dikenal namanya, itu berfaedah bibit buwit yang lagi ambang yang pernah kita temui di hidupnya; andaikan kumpi/kompyang (ayahnya kakek). Kehadiran orang yang menduga berlalu yang kita kenal asal ke di bunga tidur biasanya pelebaya hendak sedia anak bini yang hendak berlalu ataupun sakit. Kehadiranya melambangkan menjemput keluarganya. Selain itu kehadiranya pelebaya sedia kendala di bidang sana sehingga ananda cucunya diberikan penderitaan.
Bilamana yang hadir wanita, pelebaya hendak sedia anak bini dari pihak perempuan yang hendak berlalu ataupun sakit. Demikian kembali bila yang hadir ke di bunga tidur laki-laki itu pelebaya hendak sedia kematian di anak bini laki-laki. Bisa jua yang hendak berlalu anak bini dari orang yang dimimpikan tersebut.
Dua bulan sebelumnya aku pernah memimpikan sepupu dari anak bini pihak perempuan yang menduga tiada, berlalu waktu SMK. Dalam bunga tidur itu aku melihat beliau pulang dari sekolah, bertemu ambang rumah mamanda saya, lalu beliau hendak menganjur aku pulang.
'Bli, maih mulih membujuk tiang' (Kakak, mari kita pulang sama aku).
'Maluan ba mah, bli durian' (Duluan aja dah, kakak belakangan).
Sempat bertanya-tanya di hati, pula barang siapa|sembarang orang} hendak berlalu mengapa bunga tidur didatangi sepupu yang menduga meninggal. Saya duga mamanda aku akan meninggal, malahan sembuh dari sakitnya. Namun yang berlaku kemudin kakek beliau yang meninggal; kakek dari anak bini ibunya.
Tanda-tanda hendak kematian seseorang tentu jauh-jauh musim baru bisa terbukti. Berdasarkan uraian kitab Siva purana, gejala kematian seseorang boleh dikenali tiga ataupun dua bulan menjelang kematian. Dalam ajaran Islam gejala kematian 'Sakaratul maut' seseorang bisa dikenali 100 musim menjelang kematian bagi mengatur yang hendak meninggal.
Kehadiran orang yang tak dikenal ke di bunga tidur jua pelebaya kehadiran batara (sesuunan). Biasanya ia hadir sebagai orang asing (turis). Seringkali hadir sebagai Sulinggih ataupun orang suci. Apabila Bhatara Kawitan yang hadir ke di bunga tidur biasanya hadir seagai orang bersih ataupun sulinggih yang kita kenal.
Saya pernah bunga tidur melihat sesuunan dengan simbol turis, buat menafsirkannya pula baru dua musim sehabis bunga tidur becus terpecahkan teka-teki mimpinya. Itu pula bapak aku yang berhasil memecahkan rahasia dari bunga tidur saya. Mimpinya sebagai berikut;
Pada malam musim aku dan jero Mahendra pulang dari ekaristi atas sebuah pura, barangkali dari Pura Desa (Bale Agung). Lalu balik akan beradu (hor) di rumah karang desa hak anak bini abdi yang sedia di Bengklok. Jero Mahendra tak akan mengikuti saya, beliau kabur memilih jalan lain menuju rumahnya, rumah karang desa juga. Sampai di rumah tujuan, telah sedia berlimpah anak bini yang tidur, tak ingat namanya. Meski aku mengantuk berat tetapi belum akan tidur, apalagi akan layap lagi meski telah sempoyongan, akan mencari cewek (Sifat ganjen tergiring ke bidang mimpi). Saking ngantuknya, saat melangkah cabut di tangga rumah, aku terjatuh ke tanah. Rasanya ingin beradu (hor) sahaja di bentala itu. Tiba-tiba di antariksa nan jauh disana lewat dua orang asing (turis) amblas agung menggunakan parasut, parasutnya dihiasi lampu kerlap-kerlip atas talinya, layaknya lampu disco. Betapa menakjubkan suasananya. Dimana antariksa dipenuhi bintang-bintang kemudian sedia pendatang terbang. Seakan pendatang itu hendak menuju rumah aku yang satunya.
Tak lama berselang, kedua pendatang itu tak bisa lewat, melegarkan haluan, seperti perjalanannya terganggu. Parasutnya amblas mundur. Lalu aku dengan kepayahan bergegas bangun dari bentala agar bisa melihat payung itu akan jalan kemana. Saya pula terbangun. Lelahnya terasa sampai gegau dari mimpi.
Kemudian aku gali bunga tidur dengan tenung soal lara, hasilnya sedia kaitannya sesuunan, yaitu sisa 4; batari agung. Namun, tak memafhumi maksudnya. Demikian kembali bapak aku tak becus menafsirkannya. Dua musim sehabis mimpi, Jero Mahendra asal ke rumah. Lalu aku cerita bahwa aku sempat memimpikannya. 'Waktu ini pakcik sempat memimpikan jero loh. Mimpi sepulang dari ekaristi akan diajak beradu (hor) di rumah pakcik melainkan tak mau. Oya, jero oke dasaran (tapakan) Ratu apa sih?' Tanya saya.
'Masak? Aku dasaran Ratu Sakti Maduwe'
Setelah diberitahu demikian, aku lagi membicarakan bunga tidur tersebut dengan bapak saya. Bapak aku langsung adicita dengan bunga tidur itu akibat bapak aku ingat soal kedudukan sesuunan yang dipuja di Songan. Ternyata arti bunga tidur tersebut bahwa Ratu Sakti Maduwe yang kahyangannya sedia di bandar Njung Songan ataupun Gwa Song (juga di pupun sebagai balai abian) tidak berkenan hadir ke rumah anak bini abdi akibat sesuunan lainnya belum jua dihaturkan baten piuning.
Sedangkan beberapa waktu lalu anak bini abdi membangun Sanggah Kamulan, yang merupakan ruang pemujaan bibit buwit dan jua sesuunan (dewata) di rumah. Kenapa ia belum berkenan? Hal itu berlaku akibat beberapa waktu lalu bapak aku baru mapiuning ke Pupun melainkan belum ngaturang piuning di bandar Desa, jua belum ngaturang piuning di bandar Dalem, itulah sebabnya di antariksa lagi sedia dua Turis yang melegarkan haluan. Sesuunan di bandar Dalem dan Pura Desa jua belum berkenan hadir ke rumah kami.
Belakangan bapak aku jua kena petunjuk buat mapiuning di bandar Yeh Panes. Khusus buat bandar Yeh Panes, bila membangun Sanggah Kamulan barangkali masyarakat Songan belum sedia yang ngaturang piuning kesana. Namun dari petunjuk mimpi, ternyata perlu jua mapiuning di bandar Yeh Panes, dihaturkan kepada Ratu Wayan Penyarikan, dan jua Ratu Sakti Makulem.
Kembali ke tema utama. Bagaimana bila memimpikan orang yang lagi bernapas dan kita kenal? Apabila kita memimpikan orang-orang yang kita kenal dan orang tersebut lagi hidup, kita boleh menggali arti bunga tidur ke di tiga jenis;
Ikatan Batin
Memimpikan orang yang sedia ikatan batin, seperti keluarga, orang yang disayang, menandakan adanya suatu ikatan emosi dengannya; apakah hendak sedia hal ataukah hendak datangnya perasaan kasih sayang. Mimpi seperti ini telah sering aku ceritakan. Mimpi berbenturan sama dia, beberapa musim kemudian di dunia nyata saling cela maki. Mimpi beliau bilang kangen, beneran beliau kangen. Hal itu bisa terlihat dari alterasi sikap beliau yang cukup drastis.
Arti Nama
Ketika kita memimpikan seseorang, baik sedia ikatan batin maupun tidak sedia ikatan, kita bisa gali maknanya berdasarkan asma orang bersangkutan. Apabila bunga tidur diberi petunjuk melalui asma orang yang kita temui, biasanya orang yang kita mimpikan lebih dari satu. Dan biasanya samar-samar asma orang yang hadir di mimpi, namanya nengen; bila digabungkan memiliki arti.
Contoh misalnya, bapak aku bunga tidur diganggu dua orang anak. Nama ananda itu Daging dan Gede Merta. Lalu atasan ananda itu dipukul sama bapak saya. Sebelum bunga tidur seperti itu, kemarinnya berkeluh kesah gara-gara usahanya gagal. Mimpi arti di atas tersebut dinasehati agar tidak kecewa ataupun berkeluh kesah akibat sebenarnya telah berlimpah diberi rejeki. ' (sampun) Gede dagingin merta' (sudah berlimpah diberi harta).
Contoh lain, aku bunga tidur mengajar, yang oke murid teman-teman aku waktu madrasah dasar, yaitu Widi Asih, Kecen Merta, gede Sudarma. Maknanya; Widine eman ngicenin merta lan kedarmaan; Tuhan bermurah lever membebankan rejeki dan kebaikan. Bertanya-tanya di lever 'Rejeki dari mana?' Beberapa saat kemudian aku hilang kesadaran. Saya bunga tidur singkat, memasukan dasun ahmar ke di tas hitam. Itu artinya aku disuruh menanam dasun merah.
Makna bunga tidur berdasarkan asma orang adakalanya digabung dengan asma tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Agak rumit mengartikannya akibat kudu ingat arti simbol-simbol binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Contoh; bapak aku bunga tidur akan menjual sapi. Sapi itu dibeli bagi Dangka Salin. Arti bunga tidur ini artinya bahwa disuruh membuat suatu ritus ataupun upacara bila menginginkan alterasi di kehidupan. Sapi ataupun Sampi pinaka Sampian, sampian identik dengan banten (upakara; sesajen). Dangka Salin artinya Mesalin (perubahan).
Saya pernah bunga tidur mencabuti rerumputan dasun ahmar di tegalan, dibantu bagi pakcik aku yang biasa dipanggil Guru Nas. Bila dibawa ke di bahasa lokal bunga tidur tersebut yaitu; mutbut bet dasun tulungin dosen nas. Maknanya; Da sebet ba baang dosen nunas (jangan sedih telah dosen berikan karunia). Pertanyaannya, kenapa aku bunga tidur seperti itu? Kemarinnya aku mencurigakan pemberian bidang abnormal berupa fetis pis bolong, didapat berdasarkan petunjuk mimpi. Saya menduga menemukan fetis pis bolong itu hanya sebuah kebetulan. Gara-gara mencurigakan kejadian itu aku bunga tidur seperti itu. Hal tersebut membuat aku bersungguh-sungguh bahwa fetis pis bolong itu asli pemberian Bhatara Hyang Guru. Bhatara Hyang dosen biasanya menjadi batari pelindung kita. Balian usadha di Bali sesungguhnya dijaga bhatara Hyang Guru. Orang Bali sering menyebutnya 'ane ngempu' (yang menjaga, yang memelihara).
Pernah jua bunga tidur singkat bunga tidur mencangkul akan menanam bawang. Bila dibawa ke di bahasa lokal menjadi ngudud lakar mula dasun artinya 'mula suba tawang' (memang telah diketahui). Saya bunga tidur seperti itu gara-gara tadinya bunga tidur yang maknanya disuruh membuat banten (sesajen). Saya tak ingat banten apa yang harus dibuat, lalu bertanya-tanya di lever 'disuruh buat upacara apa ya, mengapa tadi aku bunga tidur seperti itu?' Lalu aku tertidur lagi, kemudian bunga tidur singkat seperti di atas. Paginya aku ceritakan ke bapak, ternyata banten yang dimaksud telah sempat direncanakan akan dibuat melainkan dilupakan padahal musim H telah hampir lewat.
Tapakan Dewa
Adakalanya orang yang dimimpikan adalah orang-orang yang menyandang setatus menjadi tapakan dewa. Seperti andaikan ngiring pekayunan (jero dasaran, jero tapakan), pemangku, jero kembar, dan lain sebagainya. Bilamana memimpikan orang-orang yang begini maka galilah arti bunga tidur dari kedudukan orang tersebut. Contoh kasusnya telah sedia di atas atas bunga tidur Jero Mahendra yang menjadi dasaran Ratu Sakti Maduwe. Contoh lain andaikan seseorang bunga tidur ditendang si A, ternyata si A adalah seorang pemangku Dewa Hyang. Itu artinya orang yang bunga tidur kena berang dari bibit buwit (Dewa Hyang). Demikian sebaliknya bila diberi sesuatu bagi si A, itu artinya bibit buwit bermurah lever atas orang yang bunga tidur itu.
Bapak aku pernah bunga tidur perang tanding keras dengan sepupu saya. Sepupu aku itu berstatus ngiringang oke 'dewa kembar'. Itu artinya bapak aku bertarung dengan batari kembar. Hal itu berlaku gara-gara bapak aku kemarinnya memulihkan saudaranya yang sakit jangan medis. Dilihat dengan indra keenam, sakitnya akhir salahang batari kembar. Itulah sebabnya batari ganda berang kepada bapak saya. Akibatnya bapak aku jatuh sakit, cukup parah. Disitulah bahayanya memulihkan orang sakit akhir niskala. Bisa-bisa nyawa taruhannya. Kalau bukan ahli sendiri, tak mungkin bapak aku akan mengobatinya.
Dari cerita bunga tidur di atas kita boleh mengambil dua poin penting di denyut kita sebagai anak Adam Hindu, khususnya Hindu Bali. Pertama, bahwa denyut di bidang niskala itu sungguh-sungguh ada. Kedua, bahwa banten ataupun upakara tentu sungguh-sungguh berfungsi sebagai sarana penghubung antara denyut di skala (kehidupan nyata) dengan denyut di bidang niskala (kehidupan di bidang gaib).
Secara sederhana, orang yang hadir di bunga tidur dibagi menjadi dua golongan; orang tak dikenal dan orang yang dikenal. Orang tak dikenal simbol mahkluk gaib, seperti pisaca-pisaci, sang wengi (jero gede, jero sedahan, jin), Dewa Hyang (leluhur), bahkan Sesuunan (dewata). Apabila yang hadir di bunga tidur orang yang sama banget tak dikenal dan tidak merasa kerabat, biasanya simbol sang Wengi. Kadang kita ditolong, diberikan sesuatu. Tak jarang kembali diajak bertarung mati-matian. Mahkluk abnormal jenis ini setara kedudukannya dengan manusia; sedia yang baik suka menolong manusia, berlimpah kembali yang jahat.
Rumahnya di tempat-tempat kudus seperti batu, jurang, pohon. Oleh sebab itu di Bali berlimpah kita temukan Tugu ataupun Palinggih di tempat-tempat kudus dan diberikan sesajen, tujuannya buat nyomia (mengubah energi minus menjadi energi positif, kekuatan jahat menjadi kekuatan baik), bukan buat menyembah. Itu sebabnya bila mempersembahkan banten (upakara, sesajen) di ruang kudus bukan 'nyumbah' tapi 'ngayabang'. Dengan cara itu, kita tidak diganggunya. Kita memperlakukan mengatur dengan konsep persaudaraan, bukan dengan permusuhan.
Bila bibit buwit hadir ke di mimpi, biasanya ia asal sebagai kerabat tetapi tidak kita ketahui namanya, ini jua pelebaya yang hadir ke di bunga tidur adalah bibit buwit yang telah agung kedudukannya ataupun bibit buwit yang telah jauh. Namun apabila bibit buwit yang lagi dikenal namanya, itu berfaedah bibit buwit yang lagi ambang yang pernah kita temui di hidupnya; andaikan kumpi/kompyang (ayahnya kakek). Kehadiran orang yang menduga berlalu yang kita kenal asal ke di bunga tidur biasanya pelebaya hendak sedia anak bini yang hendak berlalu ataupun sakit. Kehadiranya melambangkan menjemput keluarganya. Selain itu kehadiranya pelebaya sedia kendala di bidang sana sehingga ananda cucunya diberikan penderitaan.
Bilamana yang hadir wanita, pelebaya hendak sedia anak bini dari pihak perempuan yang hendak berlalu ataupun sakit. Demikian kembali bila yang hadir ke di bunga tidur laki-laki itu pelebaya hendak sedia kematian di anak bini laki-laki. Bisa jua yang hendak berlalu anak bini dari orang yang dimimpikan tersebut.
Dua bulan sebelumnya aku pernah memimpikan sepupu dari anak bini pihak perempuan yang menduga tiada, berlalu waktu SMK. Dalam bunga tidur itu aku melihat beliau pulang dari sekolah, bertemu ambang rumah mamanda saya, lalu beliau hendak menganjur aku pulang.
'Bli, maih mulih membujuk tiang' (Kakak, mari kita pulang sama aku).
'Maluan ba mah, bli durian' (Duluan aja dah, kakak belakangan).
Sempat bertanya-tanya di hati, pula barang siapa|sembarang orang} hendak berlalu mengapa bunga tidur didatangi sepupu yang menduga meninggal. Saya duga mamanda aku akan meninggal, malahan sembuh dari sakitnya. Namun yang berlaku kemudin kakek beliau yang meninggal; kakek dari anak bini ibunya.
Tanda-tanda hendak kematian seseorang tentu jauh-jauh musim baru bisa terbukti. Berdasarkan uraian kitab Siva purana, gejala kematian seseorang boleh dikenali tiga ataupun dua bulan menjelang kematian. Dalam ajaran Islam gejala kematian 'Sakaratul maut' seseorang bisa dikenali 100 musim menjelang kematian bagi mengatur yang hendak meninggal.
Kehadiran orang yang tak dikenal ke di bunga tidur jua pelebaya kehadiran batara (sesuunan). Biasanya ia hadir sebagai orang asing (turis). Seringkali hadir sebagai Sulinggih ataupun orang suci. Apabila Bhatara Kawitan yang hadir ke di bunga tidur biasanya hadir seagai orang bersih ataupun sulinggih yang kita kenal.
Saya pernah bunga tidur melihat sesuunan dengan simbol turis, buat menafsirkannya pula baru dua musim sehabis bunga tidur becus terpecahkan teka-teki mimpinya. Itu pula bapak aku yang berhasil memecahkan rahasia dari bunga tidur saya. Mimpinya sebagai berikut;
Pada malam musim aku dan jero Mahendra pulang dari ekaristi atas sebuah pura, barangkali dari Pura Desa (Bale Agung). Lalu balik akan beradu (hor) di rumah karang desa hak anak bini abdi yang sedia di Bengklok. Jero Mahendra tak akan mengikuti saya, beliau kabur memilih jalan lain menuju rumahnya, rumah karang desa juga. Sampai di rumah tujuan, telah sedia berlimpah anak bini yang tidur, tak ingat namanya. Meski aku mengantuk berat tetapi belum akan tidur, apalagi akan layap lagi meski telah sempoyongan, akan mencari cewek (Sifat ganjen tergiring ke bidang mimpi). Saking ngantuknya, saat melangkah cabut di tangga rumah, aku terjatuh ke tanah. Rasanya ingin beradu (hor) sahaja di bentala itu. Tiba-tiba di antariksa nan jauh disana lewat dua orang asing (turis) amblas agung menggunakan parasut, parasutnya dihiasi lampu kerlap-kerlip atas talinya, layaknya lampu disco. Betapa menakjubkan suasananya. Dimana antariksa dipenuhi bintang-bintang kemudian sedia pendatang terbang. Seakan pendatang itu hendak menuju rumah aku yang satunya.
Tak lama berselang, kedua pendatang itu tak bisa lewat, melegarkan haluan, seperti perjalanannya terganggu. Parasutnya amblas mundur. Lalu aku dengan kepayahan bergegas bangun dari bentala agar bisa melihat payung itu akan jalan kemana. Saya pula terbangun. Lelahnya terasa sampai gegau dari mimpi.
Kemudian aku gali bunga tidur dengan tenung soal lara, hasilnya sedia kaitannya sesuunan, yaitu sisa 4; batari agung. Namun, tak memafhumi maksudnya. Demikian kembali bapak aku tak becus menafsirkannya. Dua musim sehabis mimpi, Jero Mahendra asal ke rumah. Lalu aku cerita bahwa aku sempat memimpikannya. 'Waktu ini pakcik sempat memimpikan jero loh. Mimpi sepulang dari ekaristi akan diajak beradu (hor) di rumah pakcik melainkan tak mau. Oya, jero oke dasaran (tapakan) Ratu apa sih?' Tanya saya.
'Masak? Aku dasaran Ratu Sakti Maduwe'
Setelah diberitahu demikian, aku lagi membicarakan bunga tidur tersebut dengan bapak saya. Bapak aku langsung adicita dengan bunga tidur itu akibat bapak aku ingat soal kedudukan sesuunan yang dipuja di Songan. Ternyata arti bunga tidur tersebut bahwa Ratu Sakti Maduwe yang kahyangannya sedia di bandar Njung Songan ataupun Gwa Song (juga di pupun sebagai balai abian) tidak berkenan hadir ke rumah anak bini abdi akibat sesuunan lainnya belum jua dihaturkan baten piuning.
Sedangkan beberapa waktu lalu anak bini abdi membangun Sanggah Kamulan, yang merupakan ruang pemujaan bibit buwit dan jua sesuunan (dewata) di rumah. Kenapa ia belum berkenan? Hal itu berlaku akibat beberapa waktu lalu bapak aku baru mapiuning ke Pupun melainkan belum ngaturang piuning di bandar Desa, jua belum ngaturang piuning di bandar Dalem, itulah sebabnya di antariksa lagi sedia dua Turis yang melegarkan haluan. Sesuunan di bandar Dalem dan Pura Desa jua belum berkenan hadir ke rumah kami.
Belakangan bapak aku jua kena petunjuk buat mapiuning di bandar Yeh Panes. Khusus buat bandar Yeh Panes, bila membangun Sanggah Kamulan barangkali masyarakat Songan belum sedia yang ngaturang piuning kesana. Namun dari petunjuk mimpi, ternyata perlu jua mapiuning di bandar Yeh Panes, dihaturkan kepada Ratu Wayan Penyarikan, dan jua Ratu Sakti Makulem.
Kembali ke tema utama. Bagaimana bila memimpikan orang yang lagi bernapas dan kita kenal? Apabila kita memimpikan orang-orang yang kita kenal dan orang tersebut lagi hidup, kita boleh menggali arti bunga tidur ke di tiga jenis;
Ikatan Batin
Memimpikan orang yang sedia ikatan batin, seperti keluarga, orang yang disayang, menandakan adanya suatu ikatan emosi dengannya; apakah hendak sedia hal ataukah hendak datangnya perasaan kasih sayang. Mimpi seperti ini telah sering aku ceritakan. Mimpi berbenturan sama dia, beberapa musim kemudian di dunia nyata saling cela maki. Mimpi beliau bilang kangen, beneran beliau kangen. Hal itu bisa terlihat dari alterasi sikap beliau yang cukup drastis.
Arti Nama
Ketika kita memimpikan seseorang, baik sedia ikatan batin maupun tidak sedia ikatan, kita bisa gali maknanya berdasarkan asma orang bersangkutan. Apabila bunga tidur diberi petunjuk melalui asma orang yang kita temui, biasanya orang yang kita mimpikan lebih dari satu. Dan biasanya samar-samar asma orang yang hadir di mimpi, namanya nengen; bila digabungkan memiliki arti.
Contoh misalnya, bapak aku bunga tidur diganggu dua orang anak. Nama ananda itu Daging dan Gede Merta. Lalu atasan ananda itu dipukul sama bapak saya. Sebelum bunga tidur seperti itu, kemarinnya berkeluh kesah gara-gara usahanya gagal. Mimpi arti di atas tersebut dinasehati agar tidak kecewa ataupun berkeluh kesah akibat sebenarnya telah berlimpah diberi rejeki. ' (sampun) Gede dagingin merta' (sudah berlimpah diberi harta).
Contoh lain, aku bunga tidur mengajar, yang oke murid teman-teman aku waktu madrasah dasar, yaitu Widi Asih, Kecen Merta, gede Sudarma. Maknanya; Widine eman ngicenin merta lan kedarmaan; Tuhan bermurah lever membebankan rejeki dan kebaikan. Bertanya-tanya di lever 'Rejeki dari mana?' Beberapa saat kemudian aku hilang kesadaran. Saya bunga tidur singkat, memasukan dasun ahmar ke di tas hitam. Itu artinya aku disuruh menanam dasun merah.
Makna bunga tidur berdasarkan asma orang adakalanya digabung dengan asma tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Agak rumit mengartikannya akibat kudu ingat arti simbol-simbol binatang maupun tumbuh-tumbuhan. Contoh; bapak aku bunga tidur akan menjual sapi. Sapi itu dibeli bagi Dangka Salin. Arti bunga tidur ini artinya bahwa disuruh membuat suatu ritus ataupun upacara bila menginginkan alterasi di kehidupan. Sapi ataupun Sampi pinaka Sampian, sampian identik dengan banten (upakara; sesajen). Dangka Salin artinya Mesalin (perubahan).
Saya pernah bunga tidur mencabuti rerumputan dasun ahmar di tegalan, dibantu bagi pakcik aku yang biasa dipanggil Guru Nas. Bila dibawa ke di bahasa lokal bunga tidur tersebut yaitu; mutbut bet dasun tulungin dosen nas. Maknanya; Da sebet ba baang dosen nunas (jangan sedih telah dosen berikan karunia). Pertanyaannya, kenapa aku bunga tidur seperti itu? Kemarinnya aku mencurigakan pemberian bidang abnormal berupa fetis pis bolong, didapat berdasarkan petunjuk mimpi. Saya menduga menemukan fetis pis bolong itu hanya sebuah kebetulan. Gara-gara mencurigakan kejadian itu aku bunga tidur seperti itu. Hal tersebut membuat aku bersungguh-sungguh bahwa fetis pis bolong itu asli pemberian Bhatara Hyang Guru. Bhatara Hyang dosen biasanya menjadi batari pelindung kita. Balian usadha di Bali sesungguhnya dijaga bhatara Hyang Guru. Orang Bali sering menyebutnya 'ane ngempu' (yang menjaga, yang memelihara).
Pernah jua bunga tidur singkat bunga tidur mencangkul akan menanam bawang. Bila dibawa ke di bahasa lokal menjadi ngudud lakar mula dasun artinya 'mula suba tawang' (memang telah diketahui). Saya bunga tidur seperti itu gara-gara tadinya bunga tidur yang maknanya disuruh membuat banten (sesajen). Saya tak ingat banten apa yang harus dibuat, lalu bertanya-tanya di lever 'disuruh buat upacara apa ya, mengapa tadi aku bunga tidur seperti itu?' Lalu aku tertidur lagi, kemudian bunga tidur singkat seperti di atas. Paginya aku ceritakan ke bapak, ternyata banten yang dimaksud telah sempat direncanakan akan dibuat melainkan dilupakan padahal musim H telah hampir lewat.
Tapakan Dewa
Adakalanya orang yang dimimpikan adalah orang-orang yang menyandang setatus menjadi tapakan dewa. Seperti andaikan ngiring pekayunan (jero dasaran, jero tapakan), pemangku, jero kembar, dan lain sebagainya. Bilamana memimpikan orang-orang yang begini maka galilah arti bunga tidur dari kedudukan orang tersebut. Contoh kasusnya telah sedia di atas atas bunga tidur Jero Mahendra yang menjadi dasaran Ratu Sakti Maduwe. Contoh lain andaikan seseorang bunga tidur ditendang si A, ternyata si A adalah seorang pemangku Dewa Hyang. Itu artinya orang yang bunga tidur kena berang dari bibit buwit (Dewa Hyang). Demikian sebaliknya bila diberi sesuatu bagi si A, itu artinya bibit buwit bermurah lever atas orang yang bunga tidur itu.
Bapak aku pernah bunga tidur perang tanding keras dengan sepupu saya. Sepupu aku itu berstatus ngiringang oke 'dewa kembar'. Itu artinya bapak aku bertarung dengan batari kembar. Hal itu berlaku gara-gara bapak aku kemarinnya memulihkan saudaranya yang sakit jangan medis. Dilihat dengan indra keenam, sakitnya akhir salahang batari kembar. Itulah sebabnya batari ganda berang kepada bapak saya. Akibatnya bapak aku jatuh sakit, cukup parah. Disitulah bahayanya memulihkan orang sakit akhir niskala. Bisa-bisa nyawa taruhannya. Kalau bukan ahli sendiri, tak mungkin bapak aku akan mengobatinya.
Dari cerita bunga tidur di atas kita boleh mengambil dua poin penting di denyut kita sebagai anak Adam Hindu, khususnya Hindu Bali. Pertama, bahwa denyut di bidang niskala itu sungguh-sungguh ada. Kedua, bahwa banten ataupun upakara tentu sungguh-sungguh berfungsi sebagai sarana penghubung antara denyut di skala (kehidupan nyata) dengan denyut di bidang niskala (kehidupan di bidang gaib).
Sekian penjelasan mengenai Tafsir Mimpi Berdasarkan Orang yang Ditemui semoga dengan artikel di atas tersebut bisa menambah wawasan kalian, sampai jumpa lagi

0 comments:
Post a Comment